Misteri Cincin Bertuah Peninggalan Ki Wasta

Post a Comment
Cincin adalah perhiasan yang biasa di gunakan oleh pria waupun wanita, namun cicin ini berbeda karena cicin ini bertuah, cincin ini terbuat dari perak dan mata cicinnya terpasang sebuah batu berwana biru tua. Dahulu cincin ini di pakai oleh ki Wasta, Ki Wasta adalah seorang paranormal yang di segani di suatu daerah. Sebelum meninggal Ki Wasta memberikannya kepada seseorang yang bernama Yasir.

*****

"Akirnya cincin ini berada di tanganku juga", ucap Yasir dalam hati sambil memandang cincin tersebut dan mengusapnya, "kenapa kamu pandangi terus cincinnya Sir", Tanya Wandi, Wandi adalah teman dekat Yasir, "kamu tahu sendiri, ini cincin apa", balas Yasir, mereka sedang duduk di sebuah kursi yang terbuat dari bambu di bawah pohon menghadap pesawahan.  Ketika selesai bekerja Yasir dan Wandi kadang - kadang menghabiskan waktu di pinggir sungai sambil ngobrol ngaler ngidul.

****

Keesokan harinnya Yasir diminta oleh Wandi untuk mengantarkan nya ke rumah Omnya ke desa tetangga. Sesampainya di sana mereka di suruh menunggu oleh tante Wandi karena Om sedang pergi keluar, "ada perlu apa ke Om Wan?", tanya si tante ke Wandi, "mau minta air tan, biar usaha lancar", balas Wandi, Om Wandi adalah seorang paranormal, biasa di datangi banyak tamu dari daerah nya sendiri maupun luar daerah. Setelah beberapa lama menunggu pamannya datang dengan tamunya, entah habis dari mana, di teras depan terlihat pamannya Wandi seperti sedang menasehati tamunya, kemudian langsung pulang menggunakan sepeda motor.

"Kapan datang Wan?", Tanya si Om sambil menjabat tangan, "baru sampe Om", balas Wandi, "dari tadi menungu juga", gerutu Yasir dalam hati, Om Wandi kemudian menjabat tangan Yasir sambil bertanya, "ini siapa?", "saya Yasir Om", kemudian si Om duduk dan memangil istrinya meminta kopi hitam, "kamu dapat cincin dari mana?", tanya paman secara tiba - tiba, membuat Yasir kaget,  "pemberian ki Wasta, kenapa emang Om?", balas Yasir, sambil tersenyum bangga. "Ini kopinya", istrinya membawakan segelas kopi, "ada apa dengan cincinnya Om?", tanya Wandi ke si Om seperti penasaran ingin tahu tentang cincin ki Wasta, "tanya aja langsung sama Yasir", balas si Om, "mau apa kesini, Wan?", tanya si Om sambil mengambil gelas kopi yang ada di meja kemudian meminum kopinya, "biasa Om minta air", Balas Wandi, "kalau kamu?", si Om bertanya ke Yasir, "saya cuma nganter", balas Yasir. Kemudian Yasir keluar karena takut mengganggu dan agar mereka bebas berbicara. 

Setelah beberapa lama Wandipun keluar dari rumah dan kamipun pamit pulang, "Kamu rawat yang bener ya tuh cincin", ucap Om, "tentu dong Om", balas Yasir. "Sepertinya si Om mau dengan cincin ini", ungkap hati Yasir, "saya tidak mau cincin kamu, saya hanya menasehati saja, kalau tidak benar - benar di rawat kamu akan tahu akibatnya", Ucap si Om tiba - tiba dan agak sedikit sewot, Yasir heran dan sekaligus kaget "apakah aku bicara kenceng ya, apakah Omnya wandi bisa membaca pikiranku", ucap Yasir dalam hati, kemudian merekapun pulang, dalam perjalanan "apakah tadi aku bicara kencang?", tanya Yasir, "yang mana?", balas Wandi, "pas aku bilang, sepertinya om mau dengan cincin ini", balas Yasir kebingungan, "ngga pernah ngomong kaya gitu", balas Wandi. Mendengar jawaban Wandi, Yasir jadi agak bingung "kenapa omnya wandi bicaranya seperti itu, mungkin kebetulan saja, biarin aja lah", ucap Yasir dalam hati. 

Setibanya di rumah sekitar jam 7 malam, kemudian Yasir menuju ke meja makan, ia buka tudung saji dan di lihatnya ada sepotong ayam bakar. "Makan malam dengan ayam bakar", Yasirpun mandi dan berganti baju. Kemudian ia menuju ke meja makan, "ibu - ibu" Yasir memanggil ibunya, "ada apa?", tanya ibunya, "ayam bakar mana?", tanya Yasir, "bukanya udah di makan sama kamu", "ngga bu, kan saya mandi dan ganti baju", balas Yasir sambil merengut kecewa, "trus kemana ya?", ucap ibunya sambil kebingungan, karena di rumah hanya ada Yasir dan ibunya, Ayah Yasir sedang keluar desa untuk beberapa hari. Ibunya pergi kebelakang rumah, dan menggambil telur ayam kampung, kemudian menggoreng untuk Yasir. Ahirnya Yasir makan dengan goreng telor. 

******

Di lain waktu ada tetangga Yasir yang datang ke rumah, membeeitahu bahwa ikan - ikan di kolamnya semuanya pindah di sawah, kemudian Yasir dan Ibunya pergi ke kolam ikan, kolam ikan ada sekitar 1 km dari rumah, dan berada di tengah pesawahan. Dilihatnya ikan - ikan berserakan di sawah sekeliling kolam, Yasir dan ibunya heran ko ikannya berserakan di sawah, "kenapa ikannya bisa ke sawah?, seperti ada yang memindahkan, kalaupun iya ada yang memindahakan ke sawah, ga mungkin bisa sebanyak ini, kalau pencuri kenapa ikan besarnya ga di bawa pulang?", ucap Yasir dalam hati penuh dengan tanda tanya. Yasir dan ibunya mengumpulkan ikan - ikannya dan mengembalikan ke kolam yang masih hidup dan yang mati mereka bawa pulang. Setelah di dibawa d ke rumah, sebagian ikannya di bagikan ke tetangga.

Yasir penuh dengan keheranan dengan kejadian tersebut karena baginya ini adalah hal yang aneh.
Yasir kemudian membakar sebagian ikannya, sekitar 5 ekor, dan setelah matang ia simpan di meja makan di tutupnya dengan rapat, dan di atasnya di simpan sebuah kaleng, jika ada kucing yang mencoba mencuri kaleng tersebut akan jatuh dan akan ketahuan. Yasir akan mandi dulu karena badannya bau asap setelah bakar ikan. Setelah selesai ia menuju meja makan, di perhatikan tudung saji masih sama persis seperti awal di tinggalkan, namun setelah ia buka tudung saji, ikannya seperti habis ada yang memakan, Yasirpun menanyakan kepada ibunya, apakah ibu nya memekan ikan bakarnya, setelah ibunya di tanya dan ternyata ibunya tidak memakannya, "walaupun iya ibu yang makan ga mungkin di habisin semua", ungkap yasir dalam hati.

****

Kejadian seperti kehilangan ayam bakar, ikan bakar, ayam mati, kehilangan uang, ikan pada ke sawah dan lain - lain. Terus terusan berulang, Yasir makin heran dan agak sedikit takut. Yasir kemudian menemui Wandi dan menceritakan kejadian yang sering dialaminya. Wandi mengajak ke rumah Omnya. Yasir dan Wandi pergi menemui Omnya Wandi. Disana Yasir menceritakan semua kejadian yang di alaminya kepada si Om, kemudian si Om meminta cincin Yasir kemudian membawanya ke dalam kamar, setelah sekitar 15 menit si Om keluar dan mengembalikan cicin kepada Yasir, kemudian Si Om berkata "itu semua akibat kamu tidak memberi sesajen dan kamu tidak pernah memandikan cincin tersebut", Ucap si Om, "ah yang bener Om", balas Yasir seperti tidak percaya, "ini baru awalnya saja, jika kamu tidak memberi sesajen dan memandikan cincin ga tahu nanti yang terjadi selanjutnya", ucap si Om kembali, kini Yasir mulai mersa takut, dan bingung harus gimana.

****

Karena takut Yasirpun memberikan kepada salah seorang, setelah cicin itu tidak di tangannya tidak ada lagi kejadian - kejadian aneh.

****

jika ada kesempatan berlanjut ke part2








Related Posts

Post a Comment

Follow by Email