Misteri Mahluk Aneh di Hutan

Post a Comment
Ini adalah sebuah kisah yang di ceritakan seseorang yang tidak mau disebutkan namanya atau sebut saja usman (nama samaran). 
Usman adalah seorang peternak ayam dan pekerjaan sambilannya sebagai sopir panggilan, di suatu pagi setelah memberi pakan ayam Usman akan ikut ke puncak gunung syawal, dan sudah di rencanakan dari semalam bahwa akan ikut dengan kang Ari (nama samaran), "kang Ari adalah seorang penyadap getah pinus".

Selangkah demi selahkan kami meninggalkan desa, berjalan menaiki bukit yang terjal dan penuh dengan rumput dan juga berduri, setelah berjalan sekitar 1 jam saya dan kang ari hampir sampai pada puncak, tiba - tiba kang Ari menunjukan ke arah tanah, lihat! ternyata bekas kaki harimau, saya jadi merinding melihat bekas kaki harimau tersebut. Tetapi saya percaya pada kang Ari bahwa dia lebih tahu tentang hutan ini. Setelah sampai di puncak, mana lokasi buat menyadap getah pinusnya? Tanya saya, ternyata harus turun lagi dan menaiki satu bukit lagi, "waduh ternyata jauh dan sangat melelahkan" ungkap dalam hati. 

Singat cerita setelah sampai di tujuan puncak ke 2, ternyata masih banyak puncak - puncak yang lain terlihat begitu gelap, mungkin karena pohonnya yang begitu besar dan berumur, sudah banyak di penuhi lumut dan akar - akar dahan. Tetapi saya tidak boleh mendekati lagi hutan berikutnya karena masih banyak hewan liar dan berbahaya kata kang Ari. Ada beberapa lokasi untuk menyadap pinus luas masing - masing wilayang berbeda - beda, namun ada satu lokasi yang tidak di sadap "terang kang ari", karena penasaran saya tanyakan kenapa lokasi tersebut tidak di sadap? Dia hanya menjawab berbahaya. Saya terus mengikuti langkah kang ari mendatangi setiap pohon pinus, dan berhenti untuk melakukan pekerjaannya. Kang Ari sudah menggingatkan tidak boleh pergi jauh darinya atau di luar pengawasannya karena kalau dihutan mudah tersesat dan juga masih banyak hewan liarnya. Kang Ari mengajak untuk beristirahat dulu, kemudian dia mengajak ke gubuk yang dia bikin, saya berjalan dibelakang mengikutinya, dalam perjalan terlihat sebuah lubang besar, mungkin sebesar pintu garasi mobil, atasnya di penuhi tanaman yang merambat dan dibawahnya di penuhi rerumputan tinggi yang hampir menutupi lumbang tersebut, "lubang apa kang?" Itu gua kayaknya sudah ada dari dulu jawab kang Ari. Saya kemudian mendahuli kang Ari karena ingin tahu di dalamnya apa, saya menyibakan rerumputan tersebut, didalamnya hanya berupa batu - batuan saja, namun didalam goa tidak ada lumut, ataupun rerumputan, bersih dan bening. Kang Ari melarang masuk, takut ada sapu angin katanya, apa sapu angin kang? Tanya saya, angin yang mengisap kedalam, jawabnya. Sayapun tidak banyak bertanya lagi, sampailah pada gubuk, kang Ari ternyata sudah menyiapkan ranting-ranting kering yang siap untuk di bakar. Kemudian kang Ari menyiapkan air untuk di masak, dan membuka bekal makanan dari rumah. Jam hampir menujukan jam 13.00 WIB. Setelah selesai istirahat kang ari akan melanjutkan pekerjaannya dia menanyakan apakah akan ikut atau menungguna di gubuk, saya akan menunggu di gubuk saja kang, jawab saya. Setelah beberapa saat kang Ari meninggalkan saya dan kang Ari pun sudah tidak terlihat lagi dari pandangan, saya duduk didepan perapian sambil menghangatkan badan dan minum kopi. Saya teringat satu lokasi yang di larang, saya jadi penasaran, sayapun mencoba memberanikan diri untuk pergi kelokasi tersebut, dan lokasinyapun tidak terlalu jauh, dalam perjalanan kabut mulai turun, mungkin sudah sekitar jam 2 siang, kenapa ada kabut siang - siang "ungkap dalam hati"
 
Ilustrasi


saya sudah hampir mendekati lokasi tersebut terlihat ada bayangan di lòkasi tersebut, mungkin itu hanya binatang, saya terus mendekatinya sambil menyelinap diantara pepohonan dan reumputan, kemudian sosok bayangan tadi mulai terlihat dengan jelas, jatung saya berdekup kencang karena itu bukan hewan, saya jadi sangat takut, saya amati dari balik rerumputan, ternyata tubunya mirip manusia, rambutnya panjang hampir menyentuh tanah, telapak kakinya terbalik dan tinggi badannya sekitar 70cm. Ternyata ini kenapa tempat ini tidak mau di sadap getahnya, kemudian perlahan lahan berbalik arah untuk balik lagi ke gubuk tadi dengan perasaan was - was dan takut mahluk tadi menyerang, mundur perlahan - lahan sampai dirasa sudah cukup aman dan tidak terlihat mahluk tadi, saya lari sekencang - kecangnya ke gubuk. Sambil berlari mulut saya terus komat kamit berdoa apapun saya baca sebisa saya. Dan ahirnya sampai juga di gubuk sambil ngos - ngosan. Kenapa muka kamu pucat dan berlari? Tanya kang Ari ada mahluk aneh jawab saya singkat. Kang Ari tidak bertanya lagi, kemudian dia mengajak saya langsung pulang . . .


Related Posts

Post a Comment

Follow by Email