Wanita Penghuni Hutan Angker dan Selendangnya #part1

Post a Comment
Diceritakan ada seorang wanita paruh baya yang tinggal sendiri di dalam hutan angker. Dia bernama yunita, disebuah gubuk kecil hanya ada satu ruangan saja di depannya ada tungku perapian buat memasak. Di samping rumah ada sebuah selokan yang berjarak sekitar 20m dan airnya begitu jernih. Tidak ada kebisingan kendaraan bermotor, hanya terdengar suara hewan yang seolah - olah saling bersautan, begitu sangat menenangkan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari - hari, Yunita berladang, memelihara ayam hutan dan memlihara ikan dikolam berukuran sekitar 5m persegi. Hutan yang ia diami ialah sebuah hutan yang sangat angker dan banyak hewan buas yang menempati hutan tersebut. Yunita sudah tinggal di hutan tersebut hampir sekitar 10 th. Tidak ada yang tahu kenapa dia mengasingkan diri ke hutan angker.

Image by Syaibatul Hamdi from Pixabay
Pagi itu hujan tidak reda - reda dari semalam, mungkin sekitar jam 8 pagi dia masih duduk di depan perapian sambil menghangatkan badan dan tergantung sebuah teko di atas perapian.
Tangan kiri dan kanannya dia gesek - gesekan, hembusan napasnya seperti asap karena cuaca saat itu sangat dingin. Dia duduk termenung pikirannya melayang memikirkan kembali masa yang telah berlalu. Hujanpun ahirnya reda namun hari sudah siang dia bingung apakah harus pergi keladang atau tidak, karena perjalanan keladang lumayan cukup jauh memakan waktu sekitar 1 jam dan jalananpun kodisinya kurang bagus karena habis di guyur hujan semalaman, suka banyak lintah dan jalanannya pun licin. Sebetulnya hari ini adalah waktunya untuk memanen tanaman diladangnya, namun cuacanya tidak memungkinkan. Setelah ia pertimbangkan ahirnya dia memutuskan tidak pergi ke ladang dan akan mencari kayu bakar dari ranting - ranting yang jatuh. Yunita pun mencari kayu bakar di sekitar gubuk nya, dia mulai mengumpulkan satu persatu ranting - ranting, setelah dirasa cukup dia simpan didekat perapian supaya ranting basah yang habis di guyur hujan cepat kering, jika dia tidak pergi ke mana - mana tungku perapiannya selalu menyala agar tidak terlalu dingin. 

Keesokan harinya Yunita pergi keladang, selangkah demi selangkah ia langkahkan kaki menuju ladang yang telah ia rawat selama beberapa bulan lamanya, kini saatnya menuai hasilnya, dalam perjalanan ia menginjak sebuah ranting kering kemudian iapun tergelincir, dia menjerit kesakitan, kaki kanannya keseleo, air matanya berlinang dan terus menjerit karena rasa sakit yang ia rasakan. Setelah beberapa saat rasa sakitnya mulai reda kemudian dia bangkit dan berdiri, mencoba berjalan perlahan, sambil terpincang - pincang terus berjalan menuju ladang dan sesekali ia berhenti beristirahat. Sesampainya di ladang tiba - tiba dia menjerit sekencang - kencangnya sambil menangis, ladangnya hancur tidak karu - karuan sepertinya habis di jarah monyet dan babi hutan, tidak ada sisa sedikitpun untuk di bawa pulang. Dia terus menangis. Penderitaannya pun kini bertambah, lalu Yunita pulang tanpa sanggup menghentikan tangisannya, menahan kesedihan dalam hati dan rasa sakit di kakinya, ia berjalan sambil terpincang - pincang menuju gubuk nya. Setengah perjalan pulang Yunita berhenti di pinggir sungai yang mengarah kegubuknya, meminum air dan membenamkan wajahnya sekalian beristirahat sejenak. Kini badannya sudah mulai segar kembali dan melanjutkan perjalanan, sesampainya di gubuk, ia melihat tinggal puing - puing semuanya hancur lebur. Entah apa yang terjadi, dia terkulai lemas dan tak sadarkan diri. Setelah beberapa lama, titik - titik air hujan yang menetes di pipinya dan menyadarkannya, membuka mata perlahan - lahan dia lihat sekelilingnya sudah gelap gulita, ternyata waktu sudah malam, dilihatnya sekeliling namun semua sudah rata dengan tanah, dia bingung harus tidur dimana, tubuhnya mulai menggigil kedingan dan perut yang sangat lapar, ditambah hujan yang mengguyur yang tidak henti - hentinya, dia menangis sambil berjalan melangkahkan kaki tak tentu arah, dia berjalan sempoyongan sesekali terjatuh. Tiba - tiba dia melihat sebuah lubang besar Yunita mendatangi lubang tersebut, lubang tersebut di tutupi rerumputan yang tinggi, dengan rasa takut dan was - was dia menyibakan rerumputan secara perlahan diperhatikan sekelilingnya, setelah di rasa aman dia mencoba masuk melewati rerumputan, tidak ada yang dapat dilihat, dia meraba - raba apa yang ada di dalam goa, dia merasakan sebuah batu dan duduk di batu tersebut dan menyandaekan tubuhnya didinding goa. Dia terus memikirkan apa yang telah menimpa dirinya. Kemudian Yunita tertidur dalam keadaan duduk dan ia bermimpi bertemu seorang kakek - kakek dan memberikan nya sebuang selendang, si kakek berpesan kamu harus kembali kekampung halaman dan membantu orang - orang yang lagi kesulitan.

Pagi pun tiba, dia membuka mata dan melihat sekeliling dia bingung sedang berada dimana, sekarang dirinya berada dalam sebuah ruangan, namun dia merasa sudah tak asing lagi di tempat tersebut dan dia melihat sebuah foto yang terpasang di pintu lemari pakain, dia hampiri foto tersebut, ternyata foto dirinya, Yunita pun ahirnya sadar ternyata dia sedang berada di dalam kamarnya sendiri, namun kejadian ini membuatnya bingung kenapa sudah berada di rumahnya sendiri dan kakinya yang sakitpun sudah sembuh seperti sedia kala. Kamarnya sudah penuh dengan jaring laba - laba dan sangat kotor. Perutnya keroncongan belum makan dari kemarin siang, dia mencari - cari makanan ke dapur namun tidak menemukan apa - apa, dia teringat dengan sutarman, sutarman adalah seorang yang di percaya Yunita untuk menggarap lahan pertaniannya berupa sawah dan jika panen tiba Yunita akan diberi hasil panen 1/3 nya, tidak menunggu lama Yunita bergegas ke rumah sutarman, "toktoktok sampurasun" Yunita mengetuk pintu rumah Sutarman, pintu rumah terbuka, Sutarman agak sedikit bengong melihat Yunita, sedikit tidak percaya akan kehadirannya yang selama bertahun - tahun tidak pernah pulang kampung, dan sekarang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan dengan pakaian yang compang camping dan badan kotor penuh dengan lumpur. Kemudian Sutarman mempersilahkannya masuk, Yunitapun masuk kerumah sutarman, Ibu kemana aja selama ini? Tanya sutarman, saya tinggal di hutan jawab Yunita, saya lapar man, ungkap Yunita ke Sutarman, Ibu lapar? Tanya Sutarman, iya, kemudian Sutarman memanggil istrinya untuk menyiapkan makan, sambil menunggu makanan siap Yunita dan Sutarman berbincang - bincang, setelah beberapa lama berbincang - bincang terdengar suara panggilan dari arah dapur "pak nasinya sudah siap" Sutarmanpun mengajaknya untuk keruang makan dan makan bersama keluarga Sutarman. Setelah selesai makan Yunita mengungkapkan maksud tujuannya yaitu mau menggambil bagian dari ladang hasil pertanian, Sutarman pun ternyata sudah mempersiapkan jika suatu waktu Yunita meminta bagiannya, "bu ini hasil panen selama ibu pergi, jadi saya jual dan uangnya saya simpan" ungkap Sutarman. Setelah urusannya beres dengan Sutarman, Yunita pamit dan meninggalkan rumah Sutarman, dalam perjalan pulang, dia berbelanja ke warung dan membeli segala kebutuhan, dari mulai kebutuh pokok, sabun dan lain sebagainya. Sesampainya di rumah dia menyimpan semua barang bawaanya kedapur, kemudian mengambil handuk ke kamar, saat mau membuka pintu lemari dia melewati sebuah cermin, terlihat bayangan dirinya dicermin, dia kaget ternyata ada selendang yang melingkar di lehernya, dia teringat akan mimpinya semalam dan kejadian aneh yang di alami. Setelah mandi dan merapihkan rumah, dia duduk - duduk di halaman rumah, tiba - tiba ada seseorang yang mengarah kepadanya, dari jauh terlihat samar - samar sosok pemuda tampan, pemuda itu kemudian menghampiri Yunita dan memperkenalkan diri, ternyata dia Pak Rt baru, dia dapat info dari Sutarman. Saya lagi ada sensus penduduk bu, ungkap Pak Rt, kemudian Pak Rt menanyakan dan meminta data - data Yunita. Setelah selasai Pak Rt pun langsung pulang. 

Setelah beberapa bulan tinggal di kampung halaman Yunita menjalankan aktivitas seperti dahulu sebelum ia mengasingkan diri, pergi kepengajian, arisan, pkk dll. Hari itu waktunya untuk arisan dengan ibu - ibu didekat rumahnya, arisan akan di adakan di rumah Bu Tono, Bu Tono adalah orang terkaya di kampung tersebut. dia berangakat dengan menggunakan selendang dari pemberian kakek - kakek dalam mimpi, namun selendangnya dia pakai buat kerudung karena emang selendangnya tidak terlalu panjang. Jadi bisa dibuat untuk kerudung. Sesampainya di rumah Bu Tono ibu - ibu sudah berkumpul, dan hanya tinggal menunggu dirinya saja. Yunita duduk berhadap - hadapan dengan Bu Tono, arisan pun di mulai, tiba - tiba Yunita melihat Bu Tono kepalanya terlihat seperti hewan, yunitapun memalingkan wajahnya dan di lihat lagi bu tono, namun sekarang wajah aslinya bu tono, kemudian yunita menundukan kepala lalu ia lihat lagi, kepala bu tono berubah lagi, terus menerus seperti itu sampai arisan selesai dan yang mendapat arisan bu tono. Setelah sampai di rumah, Yunita bingung dengan apa yang di lihatnya, kenapa kepala ibu Tono berubah - rubah? Ungkapnya dalam hati. Apa ini hanya halusinasi atau apa, Yunita bingung. Setelah kejadian itu Yunita belum pernah bertemu dengan bu Tono, paling nanti 2 minggu lagi pas acara arisan, arisan di adakan sebulan sekali.
Seminggu kemudian Yunita bersiap untuk pergi ke rumah Sutarman untuk memita bagian dari hasil panen kemarin. Sesampainya di rumah Sutarman dan sudah mendapakan bagiannya, Yunita hendak pulang namun istrinya Sutarman menajak ngobrol, Bu Yunita tahu tidak gosip yang lagi rame sekarang? Tidak jawab Yunita, Itu kan Bu Tono dapat hartanya katanya dapat dari berguru kepada hewan, ungkap istri Sutarman, Yunita kaget dengan apa yang ia dengar karena ia melihat kepala Bu Tono sama persis dengan apa yanh di bicarakan istri Sutarman.
Setelah perbincangan dengan istri sutarman yunita pamit pulang. Dia kembali kerumah dengan penuh tanda tanya besar. Yunita seperti biasa menjalankan aktivitas sehari - hari.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email