Kuntilanak Nganter Sampe Rumah

Post a Comment
Ketika aku berjalan terdengar suara langkah kaki seperti mengikuti, akupun berhenti dan berbalik namun tidak ada siapa - siapa, "mungkin hanya halusinasi saja", gumanku dalam hati, waktu itu aku baru pulang dari rumah saudara yang lumayan jauh dan tidak bisa di lewati dengan kendaraan bermotor, karena melewati pesawahan dan perkebunan. Aku terus saja berjalan dan aku dengarkan baik - baik apakah bener ada yang suara mengikuti, "habis dari mana?", tiba - tiba ada yang bertanya namun entah dari mana asalnya, namun suaranya sengau, "pulang boss", balasku dengan rasa takut, dan buku kudukku berdiri semua, sekarang berada di perkebunan dan sebentar lagi menuju rungkun bambu, katanya di rungkun bambu suka ada kuntilanak,
Ilustrasi
"apakah dilanjutkan pulang atau kembali", ucapku dalam hati, namun jika aku kembali ke rumah saudaraku takut di ledekin, aku terdiam di perkebunan dengan penerangan dari cahaya ponsel saja, aku bingung antara melanjutkan pulang atau
kembali, kalau lama disini akan semakin malam, aku pun melanjutkan berjalan dengan cepat, sekitar beberapa langkah lagi, sampe ke rungkun bambu ada yang melemparkan sesuatu ke arahku tapi sepertinya pasir atau tanah kering, jantungku rasanya berhenti berdetak dan membuat aku terdiam mematung, "hihihihihihi... ", terdengar suara wanita tertawa dengan melengking, membuat semakin takut saja, namun aku berusaha menenangkan diri dan menahan rasa takut, sebetulnya ingin berlari namun kondisi nya gelap, hanya di terangi cahaya ponsel, aku takut celaka karena tindakanku sendiri, aku pun berjalan sambil berdoa sebisa - bisa, namun ada lagi yang menabur pasir ke seluruh tubuhku,"apa ini", ucapku dengan suara keras agar tidak terlalu takut, setelah melewati rungkun bambu, kini sampai di pesawahaan dan sebentar lagi melewati pemakaman dan dari pemakaman sekitar 800 meter sampe rumah, di pesawahan aku sedikit berlari namun tidak bisa lari dengan kencang, setibanya di pemakamaman terdengar suara wanita tertawa lagi, dan tiba - tiba ada angin yang cukup besar, kunilanak muncul tiba - tiba di hadapanku, namun wajahnya tidak jelas terlihat karena tertutup rambut dan rambutnya menyentuh tanah namun tidak terlihat kakinya sepertinya melayang, sontak saja aku kaget dan membuat aku berlari ke arah kuntilanak sambil memejamkan mata, "dug", ternyata aku menabrak sebuah pohon, aku teruskan berlari dan sesekali melihat kebelakang, "seperinya kuntilanaknya tidak ngikutin", ucapku dalam hati, setalah di dalam rumah, di atas atap terasa seperti ada hembusan angin yang meniup - niup namun anginnya begitu besar. Aku berdoa supaya kuntilanak cepat pergi. Karena yakin itu kuntilanak, Setelah beberapa lama hembusan angin di atas atap hilang. Namun tidak membuat rasa takut hilang. Sampe subuh aku terjaga dan baru bisa tidur setelah orang tuaku bangun.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email