Pocong di Belakang Tante

Post a Comment
Pada suatu waktu Wardi dan Andi akan pergi ke luar kota untuk melamar perkerjaan dan akan nginap di rumah saudaranya Wardi.

Pagi - pagi Andi dan Wardi sudah berada di terminal dan sudah duduk di bis yang menuju kota tujuan mereka. Meraka berangkat dari terminal dan sampe ke kota tujuan sekitar jam 5 sore, kemudian sampe di rumah saudaranya Wardi sampe pada jam 6 sore.

"Tok tok tok Asalamualaikum, tante" wardi memanggil tantenya namun tidak ada jawaban, warsi terus memanggil berulang - ulang namun tidak juga ada jawaban, "seperti ga ada orang", ucap Andi, "kemana ya jam segini ga ada orang", balas Wardi, kemudian wardi menelopon tantenya, namun hp tantenya sepertinya mati, ahirnya mereka duduk dan mengobrol di halaman rumah tantenya sambil menunggu tantenya pulang. 

Sekitar jam 8.30 malam baru tantenya pulang, dan ternyata habis dari mesjid sholat berjamaah. "Hey kalian kapan datang? Maaf menunggu lama", Ucap tante, sambil membuka pintu rumah, "barusan tante", balas Wardi, "ayo masuk", ajak tante masuk kerumahnya, dan mempersilahkan duduk lalu tante mengambilakan minuman. "Maaf ya kalian jadi menunggu lama, soalnya tante kalau di rumah sendiri ga berani", ucap tante sambil menyuguhkan minuman dan makanan ringan, "silahkan di minum" ucap tante kembali, "kan ada Irwan, emang Irwan kemana?", tanya Wardi, "Irwan kan kuliah di luar kota", balas tente, "biasanya tante tinggal bersama anaknya dan suaminya sudah meninggal dari 3 th lalu", "ini teman kamu yang kamu ceritan di telpon ya", ucap tante, "iya tan, perkenalkan ini Andi", Ucap Wardi, "salam kenal tante", ucap Andi, "salam kenal juga, anggap saja rumah sendiri", balas tante, setelah sekian lama berbincang - bincang kemudian tante menunjukan kamar buat mereka, karena sudah jam 9 malam kemudian tante pergi masuk kamarnya untuk tidur, Wardi dan Adipun kemudian mereka membersihkan diri dan bersiap untuk tidur.

Singkat cerita, kesokan paginya Wardi dan Andi pergi ke tempat perusahaan yang akan mereka lamar, dan memberikan surat lamaran, dan kini mereka tinggal menggu panggilan untuk interview, kalau lulus seleksi administrasi,  setelah beres kemudian mereka pulang lagi kerumah tantenya.

Mereka tiba di rumah tantenya sekitar jam 3 sore, kemudian mereka bersiap untuk pulang kembali ke kota asal, merekapun pamitan ke tantenya.

Merekapun berangkat ke terminal menggunakan anggkot, kemudian ada seorang ibu yang bertanya "mau kemana de?", "mau keterminal bu mau ke kota A", balas Andi, "jam segini sudah ga ada jurusan ke sana", balas si ibu, "ah beneran bu?", balas Andi, "koga percaya di bilangin", ucap si ibu, sesampainya di terminal kemudian kami langgung menyakan ke orang terminal, dan ternyata oerkataan si ibu benar, ternyata bis yangbke kota A, hanya sekali keberangkatan yaitu jam 7 pagi. Merekapun balik lagi ke rumah tante. Tapi sebelum balik kerumah tantenya mereka memutuskan main dulu di sekitaran daerah itu, dan pulang selepas isya.

Sekitar jan 8.00 malam mereka sampe rumah tantenya, "kenapa kalian balik lagi", tanya tante seperti heran, "ga ada bis, tan", balas Wardi, "kenapa baru pulang jam segini?", tanya tante kembali, "habis main dulu, lihat - lihat", balas Wardi, "tapi maaf ya tante ga siapin makanan buat kalian, di kira kalian sudah pulang, kalo mau makan buat sendiri", ucap tante, "ya tan, tenang aja", balas Wardi.

Ilustrasi Image by Schmidsi from Pixabay

Sekitar jam 9 malam mereka pergi kedapur untuk mencari makan, di kulkas ada sayuran dan telor, kemudian mereka mebuat dadar telor. Setelah makan mereka tidak langsung tidur mereka duduk di halaman rumah. "Kamu mencium sesuatu ga", ucap Andi, "ngga, ga cium apa - apa", balas Wardi, tiba - tiba angin berhembus menerpa tubuh mereka namun dedaunan tidak ada yang bergerak, bulu kuduk Andi dan Wardi berdiri, merekapun berlarian ke rumah dan masuk kamar. "Kamu merasakan angin", tanya Wardi, "iya, ko anginnya nerpa tubuh kita doang ya?", balas Andi, mereka kebingungan dengan apa yang terjadi, "toktoktok", terdengar pintu di ketuk mereka kaget dan perlahan menjauhi pintu mendekati jendela kamar, "hihihihi", suara wanita tertawa ngan lirih dan panjang, "aaahhhhhhh" mereka teriak ketakuan, "Wardi, Andi ada apa?", tante sambil mengetuk pintu, mereka pun membuka pintu kamar, dengan wajah pucat dan ngos - ngosan, "kenapa kalian?", tanya tante, "aaada suara wanita, tan", jawab Andi dan Wardi bersamaan, "ahhhhkkk, pocong", teriak Wardi dan Andi, kemudian mereka lari ke ruang tamu, tante pun jadi ikut ketakutan dan berlari ke ruang tamu, namun setelah tante mendekat Andi dan Wardi malah lari menjauh dan berteriak, "tante, di belakang", ternyata ada pocong di belakang tante yang mengikuti tante, Andi dan Wardi lari keluar rumah, mereka bertemu seorang laki - laki, kira - kira umur 50 tahun, "kenapa kalian?, seperti ketakutan?", tanya laki - laki itu, "ada pocong", balas Andi, "ayo dimana pocongnya?", balas laki - laki itu, "Andi, Wardi kesini kenapa kalian berlarian, tante jadi takut", panggil tante dari halaman rumah, "itu poconya di belakang tante", balas Andi dan Wardi, "mana pocong?", balas laki - laki tersebut, "eh iya udah ga ada An", ucap Wardi, "iya ga ada", balas Andi. Andi dan Wardi mengajak laki - laki tersebut kerumah, kemudian si laki - laki membuat menyuruh tante membawakan 3 gelas air putih kemuidan ia membacakan sebuah doa, dan menyuruh meminum air tersebut. Setelah laki - laki itu pulang kami pun kembali kekamar untuk tidur. 

Mereka pulang keesokan harinya, setelah tiba di kota asala mereka, merekapun pulang kerumah masing - masing. 

Setelah sampe di rumah kemudian Wardi menceritakan kejadian aneh kepada orang tuanya, "itu mahluk halus penunggu di sana", ucap bapak nya, "maksudnya pak?", balas Wardi, "susah menjelaskannya", balas bapak, "singkat aja pak", balas Wardi dengan antusias, "sepertinya itu dari barang (pusaka) peninggalan suaminya", balas Bapak, kemudian Wardi diam sejenak dan agak bingung dengan apa yang di ucapkan bapaknya. 

Beberapa hari kemudian Wardi menelpon Andi mengajak untuk menemui tantenya lagi, namun Andi menolak karena ada urusan yang tidak bisa di tunda.

Wardi masih penasaran dengan yang di ucapkan bapaknya.

Sekian.





Related Posts

Post a Comment

Follow by Email