Pacarku Ternyata....?

Post a Comment
Perasaan Adiel begitu sangat senang, ya jelas saja karena Adiel diterima cintanya oleh seorang wanita yang dia cintai yaitu Liza.

Di dalam kamar Adil membaringkan tubuhnya di atas kasur, sambil senyum - senyum sendiri pikirannya melayang memikirkan saat dia menyatakan cintanya, badanya bolak balik kekiri, kekanan, terkurap terlentang, seperti cacing kepanasan, ya mungkin karena saking senang ibaratnya bagai "kodok meraih bulan".

Semua sosmednya foto profilnya dia ganti semua, menjadi foto Lisa mungkin sebagai tanda dia telah jadian, begitupun Lisa mengganti semua foto profilnya dengan foto berdua dengan Adiel.

Adiel pun sekarang berubah menjadi seorang punjangga dan menulis sebuah postingan, "cinta itu seperti candu", berbagai komentar pun di lontarkan oleh para pengikutnya.

"Yang, kamu lagi ngapain", Adil mengirim pesan ke Liza via whatapp, "lagi tiduran aja, sambil mikirin kamu", balas Liza, Adiel senang bukan kepalang dengan kata yang di ucapkan Liza. Dan percakapan merekapun berlanjut sampai tengah malam, dari jam 9 malam.

Ke esokan harinya mereka janjian ketemuan di taman kota jam 4 sore, Adiel berangkat dari rumah jam 3 sore menggunakan sepeda motor, sampai di taman jam 3.30 WIB, dia memasuki sebuah warung kopi, Adiel minum kopi sambil menunggu Liza, Adiel memandang ke arah taman takut pas Liza datang Adiel tidak melihat.

Setelah beberapa lama menunggu sekitar jam 3.55 WIB, Liza datang di antar oleh seseorang, dia turun dari sebuah mobil yang cukup bagus. Liza duduk di bangu taman dan menngeluarkan hp nya. "Kling" sebuah pesan whatapp masuk ke hp Adiel, "aku sudah menunggu di taman", Adielpun menghapiri Liza.

"Sudah lama menunggu", Adiel menyapa Liza, "baru datang, kapan datang?", jawab Liza sambil bertanya, "baru datang, kamu kesini pakai apa?", tanya Adiel, "di anter sopir Bapak", balas Liza, merekapun berbicang, berjalan - jalan, dan makan bareng di taman sampai jam 5.60. Kemudian Adiel pun mengantarkan pulang Liza ke rumah nya, Adiel kaget ternyata rumah Liza begitu megah dan mewah dan di halamannya begitu banyak kendaraan mewah.

Setelah sampai di rumah, di dalam kamar Adiel merenung memikirkan posisinya, dia menjadi mider karena ternyata pacarnya seorang yang kaya raya, berbeda jauh dengan keadaannya.

Setelah pacaran  beberapa minggu, Adiel menjemput Liza ke rumahnya, namun Adiel kurang mendapat sambutan yang menyenangkan dari orang tuanya Liza, membuat Adiel makin minder saja. Mereka akan nonton di bioskop dekat dengan rumah Liza, setelah selesai nonton, saat di luar bioskop, "sama siapa Liz?", tanya seorang laki - laki seusia Liza, Liza berumur 20th dan Adiel 25th, "ini pacar aku, ini kenalin Adiel", balas Liza ke lelaki tersebut, Adiel dan lelaki itu bersalaman dan berkenalan, "aku pergi dulu ya Liz", ucap laki-laki itu, "iya", balas Liza.

Sebelum pulang mengatar Liza, Adiel mengajak Liza makan malam, saat sedang makan ada telepon masuk ke hp Liza, namun Liza seperti kaget melihat hp nya berbunyi, "angkat Liz", ucap Adiel, "udah biarin nomor ga di kenal", balas Liza, emang yang manggil tidak ada namanya, karena hp Liza di simpan di atas meja.

Setelah makan Adiel mengantarkan Liza ke rumah Adiel, sampai gerbang rumah Liza, Adiel tidak berani masuk rumah Liza karena tidak mendapat sabutan yang menyenangkan.

Pacarku ternyata seorang ART, cerita Cinta, kisah Cinta
Ilustrasi Image by Dessie_Designs from Pixabay
Sebenarnya Adiel heran kenapa Liza mau dengan dirinya, dan Liza juga tidak malu ketika di ajak naik motor, padahal Liza orang kaya pikir Adiel

Pada suatu waktu Liza main ke rumah Adiel, itu membuat Adiel kaget karena Liza tidak memberi kabar dulu. Adiel langsung membereskan rumah, karena orang tua sedang berada di luar kota, "maaf ya rumahnya berantakan", ucap Adiel, "gpp santai aja", balas Liza sambil batu Adiel beres-beres rumah, "Yang, numpang ke toilet", "ya silahkan, Liz", balas Adiel sambil menujukan arah toilet. Ketika Liza sedang di toilet telepon Liza berbunyi, "Yang, hp kamu berbunyi", Adil memnaggil Liza, "sebentar", balas Liza, Liza pun keluar dari toilet dan mengambil hp dari tasnya namun Liza mengabaikannya, sampai beberapa kali berbunyi namun Liza tetap saja tidak menggkatnya.

Adiel jadi curiga sama nomor tersebut, Adiel jadi penasaran siapa yang sering menelponnya, kemudian Adiel secara diam - diam melihat hp Liza menyimpan nomor yang sering menghubunginya.

Karena sudah sore Adiel mau mengantar Liza pulang namun Liza tidak mau pulang, "aku mau nginep, di rumah kamu aja", ucap Liza, "nanti orang tua kamu nyariin, nanti disangkanya aku ngapain - ngapain kamu", balas Adiel, "kita kan sudah pacaran, nga apa - apa kan kalu ngapain - ngapain juga", balas Liza, Adiel kaget mendengar perkataan Liza, karena kalau di lihat sepintas dia adalah seorang yang alim dan begitu lugu. Adiel jadi merasa aneh dengan sikapnya.

Namun Adiel memaksa Liza untuk pulang, dan mengantarkannga ke rumahnya. Dalam perjalan pulang Adiel mampir di sebuah warung kopi, dia bertemu dengan lelaki yang waktu itu di bioskop. "Hei, kamu yang waktu itu ya", Adil menyapa lelaki tersebut ia sedang bersama teman wanitanya, "iya, kamu Adielkan", balas lelaki itu, "mana Liza?", tanya lelaki itu, "baru saya anter pulang", balas Adiel, "jagain yang bener Liza", ucap lelaki itu, sambil pamit pulang. Adiel pun memesan segelas kopi, Adiel menjadi heran dengan ucspan lelaki itu, kenapa sampai bicara seperti itu. Adiel pun teringat nomor yang sering menelpon Liza, Adiel kemudian menelpon nomor tersebut, "halo siapa ini?", terdengar suara seorang wanita, "saya temannya Liza, Adiel", balas Adiel, "kebetulan sekali saya mau ngobrol sama Liza, saya mau minta maaf" balas Wanita tersebut, "minta maaf karena apa", balas Adiel penasaran, "ya, kamu ada apa nelpon?, balasnya, "saya pengen lebih tahu, tentang Liza", balas Adiel, pembicaraan merekapun berlanjut dan mereka berjanji ketemuan di taman kota.

Mereka pun bertemu di taman kota, wanita itu menceritakan semua tentang Liza, antara percaya atau tidak apa yang di bicarakan wanita itu tentang Liza. 

Setelah pertemuan dengan wanita itu Adiel, kemudian mulai menyelidiki Liza, sekitar jam 9 malam Adiel kerumah Liza, dia sembunyi di sekitar rumah Liza, setelah beberapa lama, Liza keluar dari rumah tersebut, dengan pakain yang biasa - biasa aja tidak seperti biasanya ketia bertemu dengan Adiel, Adiel pun mengikuti Liza, dia di jemput sebuah motor, sepertinya yang menjemput ojek, tibalah di sebuah rumah dengan ukuran 6x6m, kemudian Liza memeberi uang kepada orang tersebut, dan ada keluar seorang anak laki - laki, "kakak", panggil anak tersebut, sontak saja Adiel kaget mendengar anak itu memanggil anak itu dengan kakak, berarti ini rumahnya Liza, Adielpun kemudian mencegat orang yang mengatar Liza, "maaf pak mengganggu, saya mau tanya", ucap Adiel kepada orang tersebut, "ya ada apa mas", balas orang tersebut, "pak, saya temen nya Liza, itu benar rumah liza?", tanya Adiel, "ya, betul mas itu rumah Liza, saya tiap hari antar jemput Liza, ke rumah pak Mahmud", balas orarang tersebut, "emang ngapain di rumah itu pak Mahmud", tanya Adiel, "ya kan Liza kerja di ruamah pak Mahmud jadi ART", balas orang tersebut. Jadi yang di katakan wanita itu benar sebenarnya Liza bukan orang kaya dan dia juga bekerja sebagai ART, sebetulnya Adiel kecewa karena Liza tidak jujur tetapi Adiel juga senang karena Adiel sekarang tidak menjadi minder kepada Liza.

Di malam berikutnya  sekitar jam 9 malam Adiel menunggu Liza di halaman Pak Mahmud, beberapa saat kemudian Liza keluar dari rumah pak Mahmud, "eh Yang ngapain di sini malam - malam", tanya Liza kepada Adiel setengah kaget, "jemput kamu, ayo aku anter pulang", balas Adiel, "emang kamu tahu rumah aku?", tanya Liza, "tahu dong", balas Adiel, dalam perjalanan pulang, menggunakan motor matic, "kenapa kamu ga jujur?", tanya Adiel, "tidak jujur giman?", balas Liza, "kenapa waktu itu kamu bilang di anter sopir Bapak, kenapa ga bilang aja di anter sopir majikan", balas Adiel agak sedikit marah, "iya maksud Bapak kan saya manggil pak Mahmud Bapak, kenapa kamu tidak tanya?", balas Liza, Adiel jadi terdiam, karena emang Adiel tidak pernah bertanya. Sesampainya di rumah Liza, Adiel di sambut Ibu dan adik nya, dan ternyata Bapak kandung Liza sudah meninggal, jadi Liza menggantikan posisi bapak nya untuk mencari nafkah. 

Adiel sekarang mengerti kenapa saat menghubungi Liza sangat susah sekali, dan setiap kali akan mengajaknya pergi harus janjian dulu. Jadi ternyata ini perkerjaan Liza. Ternyata aku yang salah paham bukan Liza yang berbohong.




Related Posts

Post a Comment

Follow by Email