Tersesat di Dimensi Lain

Post a Comment
Awalnya saya, iwan, irong, adul, wawan dan sobir, akan pergi ngaliwet di bukit yang berada di desa, jam 9 pagi saya dan iwan pergi kepasar untuk membeli beras, ayam, bumbu dll. Kemudian saya dan Iwan balik kerumah Iwan karena tempat kami berkumpul di rumah iwan, ternyata Irong, Adul dan Wawan sudah menunggu, "saya udah siapin tenda besar buat kita nginep nanti", ucap Adul, oke, berarti kita semua udah siap ya nanti habis isya kita kumpul lagi disini ucap wawan. Kami pun pulang kerumah masing - masing.
Jam 8.30 malam saya pergi kerumah Iwan semuanya telah berkumpul, ternyata saya datang terlambat, perjalanan kamipun dimulai, untuk menuju bukit kami harus melalui sawah, perkebunan, pemukiman warga (dusun tetangga), setelah pemukiman masuk ke wilayah bukit. 
Rute Perjalanan
Kamipun berjalan menuju persawan kami harus menuruni jalan setapak karena untuk sampai di pesawahan, kamipun berjalan dipematang sawah, kemudian Iwan berteriak itu membuat kami semua kaget, kamipun semua menoleh kebelakang dan Iwan sudah tidak ada, ternyata Iwan sudah terjatuh terkurap kedalam sawah, semua yang tadinya tegang jadi tertawa, karena jalannya setapak jadi posisi yang paling depan Adul, wawan, saya, Irong dan yang paling belakang Iwan. Setelah Iwan terjatuh kemudian adul memberilan senternya kepada Iwan, karena Adul sudah menggunakan headlamp, jadi sekarang penerangan Adul menggunakan headlamp dan Iwan pegang senter. Setelah melewati persawahan kami harus berjalan menanjak memasuki perkebunan warga, perkebunan yang kami lewati ini adalah perkebunan yang kurang terawat, banyak pohon - pohon besar seperti pohon kadu, jati, albasiah, dan yang paling banyak pohon bambu, dan rerumputannya juga cukup tinggi - tinggi, Di tengah perjalan di tengah - tengah perkebunan ada sebuah pohon besar, saya baru teringat di perkebunan itu ada sebuah tempat keramat, saya jadi agak merinding dan takut, kami terus saja berjalan remang - remang cahaya dari rumah warga sudah agak terlihat, itu tandanya kami akan segera sampai di pemukiaman warga, namun tiba - tiba, Adul berhenti mendadak, kamipun jadi bertubrukan karena ya kami emang jarak berdekatan. "Diam jangan berisik", ucap Adul, kamipun diam dan saya jadi bertanya - tanya ada apa, tiba - tiba, lariii..... teriak Adul, kamipun berlarian, setelah sampai sampai di perkampungan kami semua bertanya kepada Adul, sebenarnya ada kemudian Adul hanya cengas cenges saja, kemudian dia tertawa terbahak - bahak, kalian teenyata penakut ucap Adul, jadi ternyata Adul hanya ngerjain kami semua. Disitu kamipun semua jadi ikut tertawa, kamipun melanjutkan perjalanan, namun tiba - tiba turun hujan sangat deras kamipun berlari menuju sebuah rumah yang dekat dengan kami, kamipun berdiam diri di rumah itu, "ko rumahnya ga pake penerangan sih" ucap Iwan, kemudian adul melihat sekeliling ternyata kita berada di halaman samping rumah tua yang tidak berpenghuni, kamipun kemudian masuk kerumah itu, karena rumahnya kosong pintu dan jendelanya sudah rusak, kampun berkeliling di dalan memastikan bahwa rumah itu kosong dan ternyata benar langit - langit sudah pada runtuh dan atap rumah pada bocor, dan bagian dapur audah runtuh seluruhnya jadi bagian belakang rumah terbuka, kamipun berkumpul di ruangan tengah rumah itu karena bagian dalam rumah itu ruangab tengah yang paling luas. Setelah sekitar satu jam di rumah itu hujan tidak mau reja juga malah semakin deras saja, dan petir terus - terusan menggelegar. Membuat suasana menjadi mencekam di tambah tetesan air dari atap ruamh yang bocor. Kemudian Wawan memanggil, "disini aja yu nunggunya", Iwan menunjukan sebuah ruangan yang masih bagus, seperti kamar, sebetulnya saya heran karena tadi ketika berkeliling gak melihat pintu tersebut, karena atapnya tidak bocor dan lantainyapun bersih, jadi kami semuanya masuk kamar tersebut.perut mulai terasa lapar dan saya lihat jam tangan ternyata sudah jam 11 malam, kami semua tiduran di kamar tersbut, kamipun semua ahirnya tertidur di kamar tersebut.

Ketika kubuka mata aku sangat kaget karena kulihat teman - temanku sudah tidak ada, entah dimana mereka berada, di sekelilingku hanya di penuhi rumput ilalang dan samar terlihat gubuk tua dan ada seorang gadis yang sedang duduk di teras sambil menyisir rambut dan menyaikan sebuh tembang sunda yang sangat lirih yang sangat menyayat hati, sontak saja membuat aku menjadi bingung dan agak sedikit takut, karena semalam kami tidur di sebuah rumah kosong yang hampir rubuh. Kemuadian saya dekati gubuk tersebut namun tiba - tiba dari arah belakang gubuk tersebut ada kabut tebal menutupi gubuk tersebut kemudian saking tebalnya kabut tersebut sampai - sampai gubuk tersebut tidak kelihatan, dan sekita setelah kabut menutupi tubuh saya tiba - tiba langit menjadi gelap, dan terdengar suara wanita tertawa panjang, saya kemudian berjalan keraha gubuk tersebut, setealah lama berjalan tapi saya tidsk pernah sampai kegubuk tersebut, saya jadi tertegun bingung dan takut. Samar - samar terdengar ada suara yang memanggil - manggil nama kami semua bergantian, Wawan, Irong dst, saya dengarkan baik - baik suara siapa itu, saya sangat kenal dan saya yakin itu suara Adul, kemudian sayapun berteriak memanggil, "Adulll", kemudian Adul muncul dari tebalnya kabut, disitu saya merasa agak lega karena saya tidak sendiri lagi. Sayapun bercerita disitu sama Adul, setelah selesai bercerita kemudian Adul mengajak saya berjalan ke arah timur, karena pikir Adul tadi kita berjalan kearah barat jadi kita harus ke arah timur, namun bagi saya ini adalah sesuatu hal yang sangat aneh dan gak bisa di terima akal sehat, kemudian saya pun berjalan mengikuti kemana Adul melangkah, sampailah kami di sebuah hutan, sekarang saya makin heran kenapa sekarang kami berada di sebuah hutan, tiba - tiba terdengar sebuah gambelan, dan suara - suara yang sedang melapalkan sebuah kata - kata dalam bahasa yang tidak saya pahami,  "Dul kamu dengar suara - suara itu", saya berbisik kepada Adul, kemudian Adul berjongkong kemudian kami bersembunyi di antara semak - semak dan pohon yang sangat besar. "Udah kamu diam jangan berisik" balas Adul, Suara - suara itu terdengar semakin dekat dan terus semakin dekat, dari kejahuan mulai terlihat samar - samar seperti rombongan sambil membawa obor. Benar saja rombongan mulai mendekati kami dan sampailah rombongan tersebut tepat di hadapan kami, robongan tersebut menghunakan pakaian sunda zaman dahulu, satu persatu rombongan tersebut melewati kami, namun saya kaget karena di antara rombongan tersebut ada teman kami, yaitu Irong, wawan dan Iwan, tangan mereka dalam keadaan terikat, dan dileher mereka juga di pasang sebuah tali, jadi mereka di tutun seperti binatang, ketika saya akan berteriak memanggil mereka namun Adul membekap mulut saya dan berkata diam, kamu jangan bertintak gegabah, kita sekarang berada di dimensi lain, ucap Adul dengan tegas, saya saya sekarang benar - benar takut, "gimana caranya pulang?", kemudian Adul membalas, "sekarang kita ikuti rombongan tersebut, nanti kita pikirkan lagi cara kita keluar dari dimensi ini". Kamipun mengikuti rombongan tersebut dengan hati - hati karena kami takut ketahuan. Setelah beberapa lama kemudian mereka berhenti di sebuah tempat, namun di hadapan mereka terlihat seperti tumpukan batu - batu. Mereka membawa teman kami keatas batu - batu tersebut, mereka jongkokan dan tali yang mengikat leher meraka di ikatkan kesebuah kayu besar di antara tumpukan batu tersebut. Kemudian rombongan tersebut menyimpan kayu - kayu kering di dekat teman - teman kami. "Apakah mereka akan dibakar hidup", bisik saya ke Adul, tapi Adul diam saja, saya tidak membayangkan jika mereka semua di bakar hidup - hidup. Tiba - tiba ada tangan menyentuh pundak dan mendekap mulut saya, kemudian berkata "jangan bersik saya mau menolong kalian semua", Adul kemudian berkata "kek tolong temen - temen kami", tangan si kakepun di lepaskan perlahan, saya melihat ke si kakek ketika saya hendak bertanya, "diam, perhatikan teman - temanmu", ucap si kakek, saya pun menuruti perkataan si kakek, kemudian rombongan tersebut menyalakan api di tumpukan kayu di sekeliling taman kami, "tolong mereka kek" ucap saya, saya mulai panik karena jika api takut keburu membesar dan membakar mereka semua, namun aneh nya teman - teman tidak ada respon padahal api sudah menyala di sekeliling mereka, tapi untungnyaa hujan mengguyur sangat deras, dan apipun padam, rombongan itupun berlarian entah kemana, "tolong - tolong" teriak teman - teman yang terikat, saya dan Adul menghampiri mereka dan melepaskan ikatan mereka, ahirnya saya dan Adul dapat membebaskan teman - teman, "kamu jalan terus dan nanti akan sampi di pinggir jurang, kemudian kalian loncat" ucap si kakek, belum sempat membalas si kakek langsung mengilang, "gila apa, kita harus loncat ke jurang?", ucap saya, "kita ikuti saja ucapan si kakek, balas Adul, karena kita tidak punya pilihan lain, pungkasnya lagi, kamipun berjalan mengikuti arahan si kakek dan sampailah kami di tepi jurang, kemudian kamipun loncat kejurang tanpa ragu, namun tiba - tiba kesadan saya hilang, setelah sadar saya sudah ada di puskemas dan selang inpus sudah terpasang. entah apa yang terjadi sayapun bingung.

maaf masih banyak typo - nya
Newest Older

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email